
Kau tinggalkan cangkir di sisi jendela
Teh yang kau buat sudah dingin sejak lama
Di kursi kayu masih ada lipatan
Surat kecil yang tak jadi kau bacakan
Aku bicara pelan pada rumah ini
Seolah kau pulang sebelum pagi
Tapi cuma jam tua yang menjawab
Dengan detik-detik yang terasa lambat
Kalau memang harus selesai
Mengapa hatiku belum sampai?
Kau jauh, tapi namamu tinggal
Di tiap sudut yang tak berubah
Aku mencoba melepas genggaman
Namun rindu datang tanpa permisi
Jika bahagiamu bukan di sini
Biar aku yang belajar pergi
Di laci bawah, tiket hari Minggu
Dua kursi, satu tujuan yang dulu
Kertasnya kusam, tintanya memudar
Seperti janji yang kalah oleh jarak
Teman bertanya, kujawab baik saja
Lalu tersenyum sebentar, menunduk lama
Ada banyak kata yang kusimpan rapi
Tak semua kehilangan bisa kujelaskan lagi
Kalau memang harus selesai
Mengapa hatiku belum sampai?
Kau jauh, tapi namamu tinggal
Di tiap sudut yang tak berubah
Aku mencoba melepas genggaman
Namun rindu datang tanpa permisi
Jika bahagiamu bukan di sini
Biar aku yang belajar pergi
Mungkin suatu hari kusimpan fotomu
Tanpa merasa sesak saat melihat matamu
Mungkin suatu pagi kubuka jendela
Dan tak lagi menunggu langkahmu di sana
Kalau memang harus selesai
Akan kuterima meski perlahan
Kau jauh, dan namamu tinggal
Seperti musim yang pernah singgah
Aku mencoba melepas genggaman
Meski rindu belum mau berhenti
Jika bahagiamu bukan di sini
Biar aku yang belajar pergi
Cangkir itu akhirnya kubersihkan
Jendela kubuka, pagi pun masuk